Ditjen Pajak (DP) baru-baru ini mengumumkan bahwa pihaknya akan menunda rencana kewajiban pelaporan data nasabah kartu kredit oleh pihak perbankan terkait disahkannya kebijakan tax amnesty. Dan rupanya hal ini mendapat tanggapan positif kalangan pengusaha, khususnya di bidang ritel. Mereka merasa lega karena rencana DP memonitor transaksi kartu kredit milik nasabah telah membuat perekonomian menjadi lesu.

Transaksi menggunakan kartu kredit

Penundaan Ditjen Pajak untuk memonitor data transaksi kartu kredit nasabah membuat lega para pengusaha ritel

Kelegaan tersebut seperti yang disampaikan oleh Tutum Rahanta, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). “Kita bersyukur akhirnya ditunda, sebab kebijakan itu tadinya mengganggu konsumsi masyarakat dan penjualan ritel turun,” ujarnya saat ditemui Minggu (10/07/2016) kemarin.

Menurut data yang ada, sejak diumumkannya rencana Ditjen Pajak pada Maret 2016, transaksi kartu kredit, khususnya untuk pembelian ritel mengalami penurunan. Penjualan ritel yang paling terasa penurunannya adalah penjualan barang-barang mahal untuk kalangan menengah ke atas, dimana transaksi sering menggunakan kartu kredit. Nasabah enggan bertransaksi karena takut datanya akan ketahuan oleh petugas pajak.

Menurut Tutum Rahanta, penundaan ini adalah keputusan yang paling tepat. Bagi nasabah kartu kredit yang masuk kategori WP yang berhak mendapatkan tax amnesty, mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini. Sehingga ke depannya tidak akan lagi ketakutan untuk bertransaksi meskipun diawasi. Hal ini bisa meningkatkan kembali penjualan ritel yang sempat lesu.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia tersebut juga berharap tidak akan ada lagi masalah seperti ini lagi di kemudian hari. “Semoga tidak ada gangguan-gangguan semacam ini lagi, sehingga ritel bisa tumbuh lebih tinggi tahun ini,” ungkapnya.

Nah, apakah Anda setuju dengan pernyataan Tutum Rahanta? Apakah benar rencana Ditjen Pajak memonitor transaksi kartu kredit nasabah bisa mengancam dunia bisnis, khususnya ritel? Atau ini hanya shock therapy sesaat karna masyarakat belum terbiasa dengan rencana baru seperti ini. Sampaikan opini Anda di kolom komentar yang tersedia!

No Comment

You can post first response comment.

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter a message.